Rabu, 30 Januari 2013

SYARAT WAJIB JUM'AT



http://Tipe[Al-Hadits]
"Sebaik-baik kalian ialah yang mempelajari al Qur'an dan mengajarkanya."
(HR Bukhari).

SYARAT WAJIB JUM'AT

Bersama Usatd Mukhlis

Pegang erat. Jangan sampai terlepas......!!!


Mengenai syarat wjib Shalat Jum'at adalah:



Pertama.
Syarat wajib sholat
Jum'at yaitu orang-orang yang
wajib mengerjakan
shalat Jum'at adalah
orang-orang yang telah memenuhi 7
syarat berikut:

a. Islam;

b. Baligh;

c. Berakal;

d. Merdeka;

e. Laki-laki;

f. Sehat badan; dan

g. Menetap (bukan
musafir, tidak dalam
perjalanan jauh).
Sedangkan orang-
orang yang tidak wajib
mengerjakan shalat
Jum'at adalah:

a. Orang kafir;

b. Anak kecil (yang belum baligh);

c. Orang gila;

d. Budak;

e. Orang perempuan; dan

f. Musafir.


Kedua.
Merujuk beberapa kitab Fiqih seperti kitab "Fathul-Mu'in, karya: Asy-Syaikh Zainuddin bin 'Abdul-'Aziz Al-Malibari, dan Kifayatul-Akhyar, karya: Al-Imam Taqiyuddin Abubakar
bin Muhammad al-
Husaini."

Ditilik dari domisili seseorang, dalam Fiqih
terdapat tiga istilah
yaitu: Mustawthin,
Muqimin, dan Musafir.


Perbedaan status domisili ini berelasi juga
terhadap beberapa
hukum ibadah, terutama shalat Jum'at.

Berikut adalah
penjelasannya:
"Musafir" adalah orang
yang sedang bepergian
untuk tujuan tertentu.
Jarak perjalanan yang
membuat orang
dianggap sebagai musafir adalah kurang
lebih 80 km, dan lagi
selama perjalanan tersebut tidak
berencana untuk
menetap di daerah tertentu lebih dari
3 hari. Jika musafir
berencana menetap di
suatu tempat 3 hari
atau lebih, maka
statusnya bukan lagi musafir, dan juga jika
perjalanannya tidak
lebih dari 80 km, maka
orang tersebut juga
belum bisa disebut
sebagai musafir (secara Fiqih). Seorang musafir mempunyai
keistimewaan dalam
melaksanakan ibadah,
yaitu diperbolehkan
menjama' shalat (mengerjakan 2 shalat
dalam sekali waktu),
diperbolehkan meng-
qashar shalat
(meringkas sholat dari 4
rekaat menjadi 2 rekaat), membatalkan
puasa Ramadhan dengan di qadla pada bulan berikutnya setelah bulan Ramdhan, dan
juga meninggalkan
shalat Jum'ah
(menggantinya dengan
shalat dhuhur). Yang perlu digaris bawahi,
rukhshah (keringanan) dalam "BAB" ini hanya
berlaku bagi musafir
yang tujuan
perjalanannya bukan
untuk ma'shiat. Kalau tujuannya untuk
ma'shiat seperti
ngapelin pacar,atau ma'shiat yang lainya ya
tentu saja rukhshah (keringanan) ini hilang (tidak berlaku).

"Muqimin", ini yang sering disalah pahami karena kemiripannya dengan kata dalam bahasa Indonesia
"pemukim".

Status Muqimin adalah
untuk orang yang melakukan perjalanan
lebih dari 80 km,
namun berencana
menetap di suatu
tempat lebih dari 3 hari.
Domisili selama lebih dari 3 hari ini bukan untuk menjadi penduduk tetap
dan di kala waktu ada
rencana untuk pulang
ke kampung halaman.

Cotoh: yang paling mudah dari orang yang
berstatus muqimin
adalah anak kos, santri
pondok, dan juga
mahasiswa yang sedang
belajar di luar daerah. Orang dengan status muqimin tidak lagi mendapat rukhshah (keringanan) seperti musafir, dan sayangnya juga tidak mendapat hak untuk menyempurnakan
bilangan Jum'atan
seperti penduduk tetap.

Maksudnya
MAKSUDNYA muqimin
tersebut tetap harus
menjalankan shalat Jum'ah, namun ketika
di masjid tertentu
jumlah penduduk yang
mengikuti shalat
Jum'ah ada 39 orang,
plus 1 orang muqimin (total 40 orang), shalat
Jum'ah di daerah
tersebut belum bisa
dianggap sah karena 1
orang muqimin tersebut
tidak bisa dihitung sebagai ahli Jum'ah.
dan terakhir adalah
"Mustauthin".
Mustawthin (penduduk
tetap) adalah orang
yang menetap di suatu
daerah, kota, atau negara, dan tidak akan pulang ke daerah lain
karena memang rumahnya adalah di situ.
Atau lebih mudahnya,
alamat KTP-nya adalah
di daerah tersebut. Tetapi penentuan mustawthin menurut fan fiqih bukan dilihat dari KTP,tapi dari sebab akibat "Mun'aqid" (rumah) orang itu sendiri. Kalau
orang tersebut sudah menganggap daerah
tersebut sebagai rumah
tempat tinggal
tetapnya, maka orang
tersebut sudah bisa
disebut sebagai mustawthin di tempat
tersebut. Mustawthin
tidak mempunyai
ketetuan seperti
musafir, dan tidak
seperti muqimin, seorang yang berstatus
mustawthin dapat
dihitung sebagai ahli
Jum'ah yang
menyempurnakan syarat sahnya digelar dan di dirikanya shalat Jum'ah.

---R<>R---
Pertama.Sembahlah Allah seberapa kebutuhanmu kepda-Nya.

Kedua.Ambillah dunia
sekedar memenuhi
kebutuhan hidupmu.

Ketiga.Perbuatlah dosa seberapa kekuatanmu
menanggung siksa-Nya.

Keempat.Berbekallah hidup di dunia ini, sebanyak
kebutuhanmu nanti di alam akhirat.

Kelima.Berbuatlah
untuk mendapatkan
surga dengan Rhdla-Nya, sesuai dengan
kedudukan yang engkau inginkan."

(syaqiq Al Balkhi RA.


Dikutip dalam majalah
Muzakki, November
2007.



SYARAT WAJIB JUM'AT



http://Tipe[Al-Hadits]
"Sebaik-baik kalian ialah yang mempelajari al Qur'an dan mengajarkanya."
(HR Bukhari).

SYARAT WAJIB JUM'AT

Bersama Usatd Mukhlis

Pegang erat. Jangan sampai terlepas......!!!


Mengenai syarat wjib Shalat Jum'at adalah:



Pertama.
Syarat wajib sholat
Jum'at yaitu orang-orang yang
wajib mengerjakan
shalat Jum'at adalah
orang-orang yang telah memenuhi 7
syarat berikut:

a. Islam;

b. Baligh;

c. Berakal;

d. Merdeka;

e. Laki-laki;

f. Sehat badan; dan

g. Menetap (bukan
musafir, tidak dalam
perjalanan jauh).
Sedangkan orang-
orang yang tidak wajib
mengerjakan shalat
Jum'at adalah:

a. Orang kafir;

b. Anak kecil (yang belum baligh);

c. Orang gila;

d. Budak;

e. Orang perempuan; dan

f. Musafir.


Kedua.
Merujuk beberapa kitab Fiqih seperti kitab "Fathul-Mu'in, karya: Asy-Syaikh Zainuddin bin 'Abdul-'Aziz Al-Malibari, dan Kifayatul-Akhyar, karya: Al-Imam Taqiyuddin Abubakar
bin Muhammad al-
Husaini."

Ditilik dari domisili seseorang, dalam Fiqih
terdapat tiga istilah
yaitu: Mustawthin,
Muqimin, dan Musafir.


Perbedaan status domisili ini berelasi juga
terhadap beberapa
hukum ibadah, terutama shalat Jum'at.

Berikut adalah
penjelasannya:
"Musafir" adalah orang
yang sedang bepergian
untuk tujuan tertentu.
Jarak perjalanan yang
membuat orang
dianggap sebagai musafir adalah kurang
lebih 80 km, dan lagi
selama perjalanan tersebut tidak
berencana untuk
menetap di daerah tertentu lebih dari
3 hari. Jika musafir
berencana menetap di
suatu tempat 3 hari
atau lebih, maka
statusnya bukan lagi musafir, dan juga jika
perjalanannya tidak
lebih dari 80 km, maka
orang tersebut juga
belum bisa disebut
sebagai musafir (secara Fiqih). Seorang musafir mempunyai
keistimewaan dalam
melaksanakan ibadah,
yaitu diperbolehkan
menjama' shalat (mengerjakan 2 shalat
dalam sekali waktu),
diperbolehkan meng-
qashar shalat
(meringkas sholat dari 4
rekaat menjadi 2 rekaat), membatalkan
puasa Ramadhan dengan di qadla pada bulan berikutnya setelah bulan Ramdhan, dan
juga meninggalkan
shalat Jum'ah
(menggantinya dengan
shalat dhuhur). Yang perlu digaris bawahi,
rukhshah (keringanan) dalam "BAB" ini hanya
berlaku bagi musafir
yang tujuan
perjalanannya bukan
untuk ma'shiat. Kalau tujuannya untuk
ma'shiat seperti
ngapelin pacar,atau ma'shiat yang lainya ya
tentu saja rukhshah (keringanan) ini hilang (tidak berlaku).

"Muqimin", ini yang sering disalah pahami karena kemiripannya dengan kata dalam bahasa Indonesia
"pemukim".

Status Muqimin adalah
untuk orang yang melakukan perjalanan
lebih dari 80 km,
namun berencana
menetap di suatu
tempat lebih dari 3 hari.
Domisili selama lebih dari 3 hari ini bukan untuk menjadi penduduk tetap
dan di kala waktu ada
rencana untuk pulang
ke kampung halaman.

Cotoh: yang paling mudah dari orang yang
berstatus muqimin
adalah anak kos, santri
pondok, dan juga
mahasiswa yang sedang
belajar di luar daerah. Orang dengan status muqimin tidak lagi mendapat rukhshah (keringanan) seperti musafir, dan sayangnya juga tidak mendapat hak untuk menyempurnakan
bilangan Jum'atan
seperti penduduk tetap.

Maksudnya
MAKSUDNYA muqimin
tersebut tetap harus
menjalankan shalat Jum'ah, namun ketika
di masjid tertentu
jumlah penduduk yang
mengikuti shalat
Jum'ah ada 39 orang,
plus 1 orang muqimin (total 40 orang), shalat
Jum'ah di daerah
tersebut belum bisa
dianggap sah karena 1
orang muqimin tersebut
tidak bisa dihitung sebagai ahli Jum'ah.
dan terakhir adalah
"Mustauthin".
Mustawthin (penduduk
tetap) adalah orang
yang menetap di suatu
daerah, kota, atau negara, dan tidak akan pulang ke daerah lain
karena memang rumahnya adalah di situ.
Atau lebih mudahnya,
alamat KTP-nya adalah
di daerah tersebut. Tetapi penentuan mustawthin menurut fan fiqih bukan dilihat dari KTP,tapi dari sebab akibat "Mun'aqid" (rumah) orang itu sendiri. Kalau
orang tersebut sudah menganggap daerah
tersebut sebagai rumah
tempat tinggal
tetapnya, maka orang
tersebut sudah bisa
disebut sebagai mustawthin di tempat
tersebut. Mustawthin
tidak mempunyai
ketetuan seperti
musafir, dan tidak
seperti muqimin, seorang yang berstatus
mustawthin dapat
dihitung sebagai ahli
Jum'ah yang
menyempurnakan syarat sahnya digelar dan di dirikanya shalat Jum'ah.

---R<>R---
Pertama.Sembahlah Allah seberapa kebutuhanmu kepda-Nya.

Kedua.Ambillah dunia
sekedar memenuhi
kebutuhan hidupmu.

Ketiga.Perbuatlah dosa seberapa kekuatanmu
menanggung siksa-Nya.

Keempat.Berbekallah hidup di dunia ini, sebanyak
kebutuhanmu nanti di alam akhirat.

Kelima.Berbuatlah
untuk mendapatkan
surga dengan Rhdla-Nya, sesuai dengan
kedudukan yang engkau inginkan."

(syaqiq Al Balkhi RA.


Dikutip dalam majalah
Muzakki, November
2007.



SYARAT WAJIB JUM'AT



http://Tipe[Al-Hadits]
"Sebaik-baik kalian ialah yang mempelajari al Qur'an dan mengajarkanya."
(HR Bukhari).

SYARAT WAJIB JUM'AT

Bersama Usatd Mukhlis

Pegang erat. Jangan sampai terlepas......!!!


Mengenai syarat wjib Shalat Jum'at adalah:



Pertama.
Syarat wajib sholat
Jum'at yaitu orang-orang yang
wajib mengerjakan
shalat Jum'at adalah
orang-orang yang telah memenuhi 7
syarat berikut:

a. Islam;

b. Baligh;

c. Berakal;

d. Merdeka;

e. Laki-laki;

f. Sehat badan; dan

g. Menetap (bukan
musafir, tidak dalam
perjalanan jauh).
Sedangkan orang-
orang yang tidak wajib
mengerjakan shalat
Jum'at adalah:

a. Orang kafir;

b. Anak kecil (yang belum baligh);

c. Orang gila;

d. Budak;

e. Orang perempuan; dan

f. Musafir.


Kedua.
Merujuk beberapa kitab Fiqih seperti kitab "Fathul-Mu'in, karya: Asy-Syaikh Zainuddin bin 'Abdul-'Aziz Al-Malibari, dan Kifayatul-Akhyar, karya: Al-Imam Taqiyuddin Abubakar
bin Muhammad al-
Husaini."

Ditilik dari domisili seseorang, dalam Fiqih
terdapat tiga istilah
yaitu: Mustawthin,
Muqimin, dan Musafir.


Perbedaan status domisili ini berelasi juga
terhadap beberapa
hukum ibadah, terutama shalat Jum'at.

Berikut adalah
penjelasannya:
"Musafir" adalah orang
yang sedang bepergian
untuk tujuan tertentu.
Jarak perjalanan yang
membuat orang
dianggap sebagai musafir adalah kurang
lebih 80 km, dan lagi
selama perjalanan tersebut tidak
berencana untuk
menetap di daerah tertentu lebih dari
3 hari. Jika musafir
berencana menetap di
suatu tempat 3 hari
atau lebih, maka
statusnya bukan lagi musafir, dan juga jika
perjalanannya tidak
lebih dari 80 km, maka
orang tersebut juga
belum bisa disebut
sebagai musafir (secara Fiqih). Seorang musafir mempunyai
keistimewaan dalam
melaksanakan ibadah,
yaitu diperbolehkan
menjama' shalat (mengerjakan 2 shalat
dalam sekali waktu),
diperbolehkan meng-
qashar shalat
(meringkas sholat dari 4
rekaat menjadi 2 rekaat), membatalkan
puasa Ramadhan dengan di qadla pada bulan berikutnya setelah bulan Ramdhan, dan
juga meninggalkan
shalat Jum'ah
(menggantinya dengan
shalat dhuhur). Yang perlu digaris bawahi,
rukhshah (keringanan) dalam "BAB" ini hanya
berlaku bagi musafir
yang tujuan
perjalanannya bukan
untuk ma'shiat. Kalau tujuannya untuk
ma'shiat seperti
ngapelin pacar,atau ma'shiat yang lainya ya
tentu saja rukhshah (keringanan) ini hilang (tidak berlaku).

"Muqimin", ini yang sering disalah pahami karena kemiripannya dengan kata dalam bahasa Indonesia
"pemukim".

Status Muqimin adalah
untuk orang yang melakukan perjalanan
lebih dari 80 km,
namun berencana
menetap di suatu
tempat lebih dari 3 hari.
Domisili selama lebih dari 3 hari ini bukan untuk menjadi penduduk tetap
dan di kala waktu ada
rencana untuk pulang
ke kampung halaman.

Cotoh: yang paling mudah dari orang yang
berstatus muqimin
adalah anak kos, santri
pondok, dan juga
mahasiswa yang sedang
belajar di luar daerah. Orang dengan status muqimin tidak lagi mendapat rukhshah (keringanan) seperti musafir, dan sayangnya juga tidak mendapat hak untuk menyempurnakan
bilangan Jum'atan
seperti penduduk tetap.

Maksudnya
MAKSUDNYA muqimin
tersebut tetap harus
menjalankan shalat Jum'ah, namun ketika
di masjid tertentu
jumlah penduduk yang
mengikuti shalat
Jum'ah ada 39 orang,
plus 1 orang muqimin (total 40 orang), shalat
Jum'ah di daerah
tersebut belum bisa
dianggap sah karena 1
orang muqimin tersebut
tidak bisa dihitung sebagai ahli Jum'ah.
dan terakhir adalah
"Mustauthin".
Mustawthin (penduduk
tetap) adalah orang
yang menetap di suatu
daerah, kota, atau negara, dan tidak akan pulang ke daerah lain
karena memang rumahnya adalah di situ.
Atau lebih mudahnya,
alamat KTP-nya adalah
di daerah tersebut. Tetapi penentuan mustawthin menurut fan fiqih bukan dilihat dari KTP,tapi dari sebab akibat "Mun'aqid" (rumah) orang itu sendiri. Kalau
orang tersebut sudah menganggap daerah
tersebut sebagai rumah
tempat tinggal
tetapnya, maka orang
tersebut sudah bisa
disebut sebagai mustawthin di tempat
tersebut. Mustawthin
tidak mempunyai
ketetuan seperti
musafir, dan tidak
seperti muqimin, seorang yang berstatus
mustawthin dapat
dihitung sebagai ahli
Jum'ah yang
menyempurnakan syarat sahnya digelar dan di dirikanya shalat Jum'ah.

---R<>R---
Pertama.Sembahlah Allah seberapa kebutuhanmu kepda-Nya.

Kedua.Ambillah dunia
sekedar memenuhi
kebutuhan hidupmu.

Ketiga.Perbuatlah dosa seberapa kekuatanmu
menanggung siksa-Nya.

Keempat.Berbekallah hidup di dunia ini, sebanyak
kebutuhanmu nanti di alam akhirat.

Kelima.Berbuatlah
untuk mendapatkan
surga dengan Rhdla-Nya, sesuai dengan
kedudukan yang engkau inginkan."

(syaqiq Al Balkhi RA.


Dikutip dalam majalah
Muzakki, November
2007.



Senin, 19 September 2011

FIRQAH DALAM ISLAM

Dalam sejarah Islam telah tercatat adanya firqah-firqah (golongan- golongan) di dilingkungan ummat Islam, yang antara satu sama yang lainnya bertentangan pahamnya secara tajam yang sulit untuk diperdamaikan, apalagi untuk dipersatukan. Hal ini sudah menjadi fakta dalam sejarah yang tidak bisa dirubah lagi, dan sudah menjadi ilmu pengetahuan yang termaktub dalam kitab- kitab agama, terutama dalam kitab-kitab Ushuludin.
Barang siapa yang membaca kitab-kitab Ushuluddin akan menjumpai di dalamnya perkataan-perkataan :
* Syia’ah,
* Khawarij,
* Mu’tazilah,
* Qodariyah,
* Jabariyah, * Ahlusunnah wal Jamaah (sunny)
* Mujassimah,
* Bahaiyah,
* Ahmadiyah,
* Wahabiyah
* dan lain-lain sebagainya.
Umat Islam, khusunya yang berpengetahuan agama tidak heran melihat dan membaca hal ini, karena Nabi Muhammad SAW sudah juga mengabarkan pada masa hidup beliau. Banyak terdapat hadits-hadits yang bertalian dengan akan adanya firqah-firqah yang berselisihan paham dalam lingkungan ummat Islam.
Di antara hadis-hadis itu adalah :
1. Kesatu : Bersabda Nabi Muhammad SAW :Artinya :”Maka bahwasannya siapa yang hidup (lama) di antarmu niscaya akan melihat perselisihan (faham) yang banyak. Ketika itu pegang teguhlah Sunnahku dan Sunnah Khalifah Rasyidin yang diberi Hidayah. Pegang teguhlah itu dan
gigitlah dengan gigi gerahammu” (Hadis Riwayat Imam Abu Dawud dll. Lihat Sunan Abu Dawud Juz IV, pagina 201)
2. Kedua : Nabi Muhammad SAW bersabda :Artinya:”Akan ada di lingkungan umatku 30 orang yang mendawahkan bahwa ia nabi, Saya adalah Nabi penutup, tidak ada lagi nabi sesudahku (H.R. Tirmidzi. Lihat Sohih Tirmidzi juzu’9 pagina 63)
3. Ketiga : Bersabda Nabi Muhammad SAW :Artinya:”Akan keluar suatu kaum akhir jaman, orang-orang muda berfaham jelek. Mereka banyak mengeluarkan
perkatan”khaeril
Bariyah”(maksudnya
firman-firman Allah yang
dibawa oleh Nabi). Iman mereka tidak melampaui kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama sebagai meluncurnya anak panah dari busurnya. Kalau orang-orang ini berjumpa dengan mu lawanlah mereka” (Hadis
Sahih riwayat Imam Bukhari. Lihat Fathul Bari Juzu XV. Pagina 315)Terang dalam hadis ini bahwa Kanada (menurut nabi) sekumpulan orang- orang muda yang sok aksi mengeluarkan fatwa agama berdasar Quran dan Hadis, tetapi keimanan mereka tipis sekali dan bahkan keimanannya keluar dari dirinya secepat keluarnya anak panah dari busurnya. Maksudnya ialah bahwa mereka banyak ngomong hadis-hadis dan Quran, tetapi mereka tidak beragama, tidak sembahyang, tidak
puasa dan tidak menjalankan tuntutan agama.
4. Keempat : Bersabda Nabi Muhammad SAW : Artinya:”ada dua firqah dari umatku yang pada hakikatnya mereka tidak ada sangkut paut dengan Islam, yaitu kaum Murjiah dan kaum Qodariyah” (Hadis Riwayat Imam Tirmidzi. Lihat Sahih Tirmidzi juzu’ VIII pagina 316)
5. Kelima : Bersabda Nabi Muhammad SAW : Artinya : Dari Hudzaifah Rda. Beliau berkata: Bersabda Rasulallah Saw. : Bagi tiap-tiap ummat ada majusinya, dan majusi ummat ku ialah orang yang mengingkari takdir. Kalau mereka mati jangan dihadiri pemakamannya dan kalau mereka sakit jangan dijenguk. Mereka adalah kelompok Dajjal. Memang Tuhan berhak untuk memasukkan mereka ke dalam kelompok Dajjal (HR. Abu Daud. Sunan Abu Daud Juz IV hal. 222)
6. Keenam : Tersebut dalam kitab hadis begini : Artinya:”Dari Abu Hurairah Rda. Beliau berkat, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:”Telah
berfirqah-firqah orang Yahudi atas 71 firqah dan orang nashara seperti itu pula dan akan berfirqah ummatku
atas 73 firqah”(HR. Imam Tirmidzi juz X,pagina 109).
7. Ketujuh : Bersabda Nabi Muhammad SAW : Artinya :”Bahwasannya Bani Israil telah berfirqah-firqah
sebanyak 72 millah (firqah) dan akan berfirqah ummatku sebanyak 73 firqah, semuanya masuk neraka
kecuali satu”. Sahabat- sahabat yang mendengar ucapan ini bertanya: ”Siapakah yang satu itu Ya Rasulallah?” Nabi Muhammad SAW menjawab: ”Yang satu itu ialah orang yang berpegang (beri’tiqad) sebagai peganganku (i’tiqadku) dan pegangan sahabat- sahabatku” (Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, lihat Sahih Tirmidzi juz X pagina 109).
8. Kedelapan : Tersebut dalam kitab Thabrani, bahwa Nabi Bersabda :Artinya: Demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammad di tangan-Nya, akan berfirqah ummatku sebanyak 73 firqah; yang satu masuk sorga dan yang lain masuk neraka”. Bertanya para sahabat:”siapakah
firqah (yang tidak masuk neraka) Ya Rasulallah ?” Nabi menjawab :” Ahlussunnah wal Jama’ah”. (Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Thabrani)
9. Kesembilan : Bersabda Nabi Muhammad SAWArtinya :”Akan ada segolongan dari ummatku yang tetap atas kebenaran, sampai hari kiamat dan mereka tetap atas kebenaran itu”. (Hadis Sahih Riwayat Bukhari, lihat Fathul Bari juz XVII, pagina 56)
Melihat hadis-hadis sohih di atas dapat diambil kesimpulan :
1. Nabi Muhammad SAW mengabarkan sesuatu yang akan terjadi dalam lingkungan ummat Islam secara mu’jizat, yaitu mengabarkan hal-hal yang akan terjadi. Kabar ini tentu diterima beliau dai Allah SWT.
2. Sesudah Nabi Muhammad SAW wafat akan ada perselisihan faham yang banyak, sampai 73 faham (itiqad)
3. Ada segolongan orang-orang muda pada akhir zaman yang sok aksi mengeluarkan dalil- dalil dari Al-Quran, tetapi keimanannya tidak melewati kerongkongan.
4. Ada 2 golongan yang tidak ada sangkut paut dengan Islam, yaitu kaum Murjiah dan Qadariyah.
5. Ada 30 orang pembohong yang akan mendakwakan bahwa ia Nabi, padahal tidak aka nada nabi lagi sesudah Nabi Muhammad SAW. Dan orang-orang Khawarij yang paling jahat.
6. Dia antara yang 73 golongan (firqah) itu ada satu yang benar, yaitu golongan kaum ahlussunnah wal Jamaah yang selalu berpegang teguh pada Sunnah Nabi dan Sunnah Khalifah Rasyidin.
7. Mereka ini akan selalu mempertahankan kebenaran itiqadnya sampai hari kiamat.
Dan sekarang, barang siapa yang meneliti sejarah perkembangan Islam dari abad-abad pertama, kedua dan ketiga dan sampai kepada jaman kita sekarang, apa yang dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW sudah nyata kebenarannya. Tersebut dalam Kitab Bughyatul Mustarsyidin, karangan Mufti Syaikh Sayid Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin Umar, yang dimasyhurkan dengan gelar Ba’lawi, pada pagina 398, cetakan Mathba’ah Amin Abdul Majid Cairo (1381 H.), bahwa 72 firqah yang sesat itu berpokok pada 7 firqah, yaitu :
1. Kaum Syiah, kaum yang berlebih-lebihan memuja Sayidina Ali Karamallahu wajhahu. Mereka tidak mengakui Kalifah-khalifah Abu Bakar, Umar dan Usman Rda. Kaum Syiah kemudian pecah menjadi 22 aliran.
2. Kaum Khawarij, yaitu kaum yang berlebih- lebihan membenci Sayyidina Ali Karamallahu wajhahu, bahkan ada di antaranya yang mengkafirkan Sayidina Ali Kw. Firqah ini berfatwa bahwa orang- orang yang berbuat dosa besar menjadi kafir. Kaum Khawarij kemudian pecah menjadi 20 aliran.
3. Kaum Mu’tazilah, yaitu kaum yang berfaham bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat, bahwa manusia membuat pekerjaannya sendiri, bahwa Tuhan tidak bisa dilihat dengan
mata di sorga, bahwa orang yang mengerjakan dosa besar diletakkan di antara dua tempat, dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW hanya dengan ruh saja, dan lain-lain. Kaum Mu’tazilah berpecah menjadi 20 aliran.
4. Kaum Murjiah, yaitu Kaum yang menfatwakan bahwa membuat maksiat tidak member madharat kalau sudah beriman, sebagai keadaannya membuat kebajikan tidak member manfaat kalau kafir.Kaum ini kemudian pecah menjadi 5 aliran.
5. Kaum Najariyah, yaitu kaum yang menfatwakan bahwa perbuatan manusia adalah makhluk, yakni dijadikan Tuhan, tetapi mereka berpendapat bahwa sifat Tuhan tidak ada. Kaum Najariyah pecah menjadi 3 aliran.
6. Kaum Jabariyah, yaitu
kaum yang memfatwakan bahwa manusia”majbur”, tidak berdaya apa-apa. Kasab atau usaha tidak ada sama sekali. Kaum ini hanya 1 aliran.
7. Kaum Musyabihah, yaitu kaum yang memfatwakan bahwa ada keserupaan Tuhan dengan manusia, umpamanya bertangan, berkaki, duduk di kursi, naik tangga, turun tangga dan lain-lainnya. Kaum ini hanya 1 aliran saja.
Jadi Jumlahnya adalah :
1. Kaum Syiah 22 aliran
2. Kaum Khawarij 20 aliran
3. Kaum Mu’tazilah 20 aliran
4. Kaum Murjiah 5 aliran
5. Kaum Najariah 3 aliran
6. Kaum Jabariah 1 aliran
7. Kaum Musyabihah 1 aliran
Jumlah 72 aliran
Kalau ditambah 1 aliran lagi dengan faham kaum Akhlussunnah
waljamaah, maka jumlahnya 73 firqah, sebagaimana yang diterangkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi.
Adapun Kaum Qadariyah termasuk golongan Mu’tazilah, kaum Bahaiyah dan Ahmadiyah masuk golongan kaum Syiah, kaum Ibnu Taimiyah masuk golongan kaum Musyabbihah dan kaum Wahabi termasuk kaum pelaksana dari faham Ibnu Taimiyah.

FIRQAH DALAM ISLAM